Beri Efek Jera, Pemerintah Madagaskar Bakal Kebiri Pedofil dan Predator Seks

Wecome Park City Home Source di Website Kami!

Jakarta – Beri Efek Jera, Pemerintah Madagaskar Bakal Kebiri Pedofil dan Predator Seks

Dokter: Ibu Stunting Dapat Lahirkan Bayi Sehat

Di parlemen Madagaskar, pemerintah telah merancang undang-undang yang menjadikan pemerkosaan anak sebagai kejahatan. Pada tanggal 2 Februari, parlemen Madagaskar, Majelis Nasional, mengesahkan undang-undang yang melegalkan pelecehan seksual terhadap anak.

RUU tersebut akan menggantikan aturan sebelumnya yang menyatakan bahwa mereka yang terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur akan dijatuhi hukuman kerja paksa selama lima hingga 20 tahun.

Sesuai aturan, mereka yang dinyatakan bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah usia 10 tahun akan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Sedangkan jika korban berusia antara 10 hingga 13 tahun, maka akan terkontaminasi bahan kimia dan dijatuhi hukuman kerja paksa selama 15-20 tahun.

Jika pemerkosanya juga masih di bawah umur, mereka akan lolos dari persalinan.

“Masyarakat harus tahu apa yang mereka lakukan,” kata Menteri Kehakiman Lindi Randremantesova mendukung RUU tersebut.

BBC melaporkan bahwa Amnesty International mengkritik undang-undang baru tersebut. Direktur regional Amnesty International untuk Afrika Timur dan Selatan, Tiger Chaguta, menekankan bahwa kasus pelecehan dan pelaporan seksual terhadap anak harus ditanggapi dengan lebih serius. Karena tak jarang pelaku sering kali dibebaskan karena adanya pembalasan jika korban melapor. Beri Efek Jera, Pemerintah Madagaskar Bakal Kebiri Pedofil dan Predator Seks

“Penerapan kebiri kimia dan bedah yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat, karena hukuman bagi mereka yang dituduh melakukan pemukulan terhadap anak di bawah umur tidak menyelesaikan masalah dan bertentangan dengan ketentuan Konstitusi Malagasi yang melarang penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya. , serta peraturan regional dan internasional terkait standar hak asasi manusia internasional,” kata Chaguta. Tonton video “Pelaku Pemukulan Anak Dikaitkan dengan Gangguan Jiwa, Benarkah?” (kna/kna)